Hikmat dalam Hidup Sederhana

Hikmat dalam Hidup Sederhana

Pengantar

Pengalaman hidup yang kaya akan suka dan duka, untung dan malang, baik dan jahat, telah memberikan pengetahuan (ilmu hidup) dan hikmat (seni memanfaatkan ilmu), yang layak menjadi contoh dan dan paradigma praktis untuk hidup sehari-hari yang lebih bijaksana. Orang yang tidak berpengalaman dapat belajar dan menjadi bijak; orang yang muda dapat memperoleh pengetahuan dan hikmat; orang yang tua dan bijak menjadi lebih bijak lagi.

Pengajaran

Pasal 15 ini memuat beragam nasihat yang tidak mudah untuk digolongkan menjadi satu atau dua pokok. Ada satu pokok utama yang tampak jelas di sini bahwa ukuran keberhasilan hidup adalah takut akan Tuhan. Rupanya, Amsal berhadapan dengan konsep banyak orang bahwa ukuran keberhasilan hidup adalah banyak harta. Amsal tentu sudah melihat hingga titik terakhir, sehingga ia tegas menyimpulkan bahwa “takut akan Tuhan” merupakan ukuran keberhasilan hidup yang sebenarnya, dan bukan kekayaan dan kehebatan apapun. Hidup dengan prinsip “takut akan Tuhan” akan menunjukkan dua sikap hidup yang praktis. Pertama, hidup sederhana memuliakan Tuhan. Orang yang hidup takut akan Tuhan akan nampak dalam pola hidup sehari-hari. Mereka yang memegang prinsip takut akan Tuhan akan berjuang hidup dengan cara yang benar, mencapai keberhasilan dan tetap hidup sederhana demi memuliakan Tuhan. Kesederhanaan yang lahir dari takut akan Tuhan akan terwujud dalam hal mencintai keluarga (ay 27), rajin dan jujur (ay 19), mampu menikmati pekerjaan dengan gembira (ay 13, 15, 30), Tetap memuliakan Tuhan (ay 8, 29). Tanpa kekayaan pun orang benar akan tetap menikmati hidup dengan gembira, karena “Lebih baik makan sayur disertai cinta kasih, daripada makan daging lezat tapi disertai kebencian” (Terj: BIMK). Kedua, nasihat dan teguran sebagai perekat relasi. Orang yang takut akan Tuhan adalah ia selalu menyediakan ruang di hatinya untuk nasihat dan teguran dari orang lain. Baginya, nasihat & teguran adalah hikmat yang merekatkan relasinya dengan Tuhan, keluarga (ortu) dan sesama (persekutuan). Siapa benci kepada teguran akan mati (ay 10), Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak (ay 22), orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak (ay 31), Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri (ay 32).

Refleksi

Hikmat membuat orang menjalani hidup dalam kesederhanaan dan memiliki hati yang siap dinasihati. Orang yang takut akan Tuhan pasti diberikan Tuhan hati yang luas untuk menerima setiap nasihat dan teguran sebagai hikmat yang berharga. Baginya nasihat adalah perekat dalam persekutuan. Sehingga kemudian ia dianggap layak oleh Tuhan untuk menasihati dan menegur orang lain secara benar dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Amin.